The Wedding of
Annisa
&
Rizki
25 / 04 / 26
A
&
R
"Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri, agar kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antaramu rasa kasih dan sayang."
Q.S. Ar-Rum: 21
We are
Getting Married!
Maha Suci Allah yang telah menciptakan makhluk-Nya berpasang-pasangan. Ya Allah semoga ridho-Mu tercurah mengiringi pernikahan kami.
&
Save the Date
Dengan memohon rahmat dan ridho Allah SWT, kami mengundang Bapak/Ibu/Saudara/i, untuk menghadiri acara pernikahan kami pada:
Akad Nikah
Sabtu
25 April 2026
08.00 WIB
Rumah Mempelai Wanita
Jl. Kapau Sari IX, Perumahan Cendana Blok C5 No.01 Kel Pematang Kapau Kec Kulim, Pekanbaru
Resepsi
Sabtu
25 April 2026
11.30 WIB s/d Selesai
Rumah Mempelai Wanita
Jl. Kapau Sari IX, Perumahan Cendana Blok C5 No.01 Kel Pematang Kapau Kec Kulim, Pekanbaru
Live Streaming
Temui kami secara virtual untuk menyaksikan acara pernikahan kami melalui tautan dibawah ini.
Love Story
Tahun 2012 menjadi halaman pertama dari kisah yang bahkan belum kami sadari sedang ditulis. Kami berada di bangku SMP yang sama, dua nama dalam satu sekolah, namun belum dalam satu cerita. Aku mengenalnya dari seorang teman yang kala itu berusaha mendekatinya. Dari sanalah rasa penasaran itu tumbuh pelan, sederhana, namun penuh makna.
Diam-diam aku mencoba menyapanya lewat sebuah permintaan pertemanan di Facebook. Permintaan itu terkirim, namun tak pernah mendapat jawaban hingga tahun 2020. Waktu berjalan, musim berganti, dan kami tetap hanya dua insan yang saling tahu dari kejauhan. Tidak ada percakapan panjang, tidak ada janji yang terucap, hanya tatapan dan rasa ingin tahu yang tersimpan rapi dalam diam.
Namun ternyata, jarak dan waktu bukanlah penghalang bagi takdir. Meski hanya saling mengenal dari jauh, benih kecil itu telah cukup untuk memulai sebuah perjalanan besar.
Selepas masa SMP berakhir, kami melangkah ke arah yang berbeda tanpa sempat saling menyapa. Tak ada pesan, tak ada kabar hanya kenangan samar tentang seseorang yang pernah singgah dalam rasa penasaran. Waktu menutup lembar itu perlahan, seolah kisah kami memang ditakdirkan untuk berhenti sampai di sana.
Namun takdir rupanya gemar menunda, bukan menghapus.
Tahun 2017, di bangku perkuliahan, semesta mempertemukan kami kembali. Di antara hiruk-pikuk mahasiswa baru dan mimpi-mimpi yang mulai disusun, kami saling mengenali dua nama lama dalam suasana yang baru. Perkenalan yang dulu tertunda akhirnya menemukan waktunya.
Kami mulai berbincang, awalnya karena satu kesamaan sederhana: pernah menjadi bagian dari sekolah yang sama. Obrolan ringan tentang masa SMP menjadi jembatan yang menghubungkan jarak tahun-tahun yang terlewat. Anehnya, selama masa perkuliahan itu, kami selalu berada di kelas yang sama meski pembagian kelas dilakukan secara acak. Seakan ada tangan tak terlihat yang terus mempertemukan langkah kami dalam ruang yang sama.
Hari-hari kuliah kami isi dengan diskusi tugas, tawa di sela kejenuhan, dan cerita tentang masa depan yang masih samar. Kami semakin sering berinteraksi, semakin mengenal satu sama lain. Namun saat itu, tak pernah terlintas dalam benak kami bahwa semua kebersamaan itu sedang menyiapkan fondasi bagi sebuah perjalanan besar.
Waktu terus berjalan, dan masa-masa kuliah kami lewati dengan semakin mengenal satu sama lain. Dari obrolan ringan hingga percakapan yang lebih dalam tentang mimpi, ketakutan, dan harapan, kami perlahan belajar memahami hati yang dulu hanya dikenal dari kejauhan.
Pada awal semester lima, di tahun 2019, aku memberanikan diri melangkah lebih jauh. Dengan keyakinan yang sederhana namun sungguh-sungguh, aku menyampaikan niat untuk mengenalnya lebih dekat bukan sekadar untuk hari ini, tetapi untuk masa depan. Aku berjanji, ketika diri ini telah cukup mapan dan siap, aku ingin memintanya berjalan bersamaku menuju pernikahan.
Dan ia menerimanya.
Bukan karena kata-kata yang indah, melainkan karena kami telah saling tahu siapa satu sama lain bahkan sejak masa remaja yang lugu di bangku SMP. Ia tahu bagaimana aku berpikir, aku pun memahami bagaimana ia memandang hidup. Kepercayaan itu tumbuh bukan dalam semalam, melainkan dalam rentang waktu yang panjang dan sabar.
Kami pun menjalani hari-hari dengan saling mengenal lebih dalam, menumbuhkan komitmen yang tidak hanya berakar pada rasa, tetapi juga pada kesadaran. Hingga tujuh tahun berlalu kami menyelesaikan perkuliahan, meraih pekerjaan masing-masing, dan mulai berdiri di atas kaki sendiri.
Hampir tiga tahun di antaranya kami harus terpisah jarak karena pekerjaan. Kota yang berbeda, rutinitas yang tak lagi sama, dan rindu yang harus pandai-pandai kami jaga agar tidak berubah menjadi jarak di hati. Namun kami tetap bertahan. Bukan tanpa lelah, bukan tanpa air mata.
Banyak yang bertanya, bagaimana kami mampu menjaga hubungan selama itu?
Jawabannya bukan pada seberapa sering kami bertemu, bukan pula pada seberapa manis kata-kata yang terucap. Rahasia yang jarang terlihat orang adalah ribuan maaf yang kami ucapkan dan ribuan kesempatan yang kami berikan untuk saling memperbaiki. Kami belajar bahwa cinta bukan tentang siapa yang paling benar, melainkan siapa yang lebih dulu merendahkan ego.
Karena pada akhirnya, hubungan ini bukan dipertahankan oleh kemewahan, melainkan oleh kesediaan untuk terus memilih satu sama lain setiap hari, dalam keadaan apa pun.
Dan hingga hari ini, kami masih berjalan berdampingan, dengan keyakinan yang semakin matang: bahwa perjalanan panjang ini bukanlah kebetulan, melainkan jawaban dari doa-doa yang tak pernah berhenti kami langitkan.
Dan akhirnya, pada tahun 2026 ini, aku kembali memberanikan diri melangkah bukan lagi sekadar dengan janji, melainkan dengan kepastian. Setelah perjalanan panjang yang kami lalui, setelah jarak, waktu, rindu, dan ribuan maaf yang saling kami berikan, aku memantapkan hati untuk membawanya menuju jenjang yang lebih suci yaitu pernikahan.
Bukan karena perjalanan ini selalu mudah, tetapi justru karena kami telah melewati yang tidak mudah bersama. Kami telah melihat satu sama lain dalam lelah, dalam kecewa, dalam rindu yang menyesakkan dan tetap memilih untuk bertahan. Dari situlah aku tahu, ia bukan hanya seseorang yang kucintai, tetapi seseorang yang ingin kugenggam tangannya hingga akhir nanti.
Tahun ini bukan sekadar angka dalam kalender. Ia adalah jawaban atas penantian, atas doa-doa yang diam-diam kami panjatkan di setiap sujud. Ia adalah titik di mana dua perjalanan panjang akhirnya sepakat untuk berjalan dalam satu arah yang sama.
Kami berharap, semoga setiap langkah menuju hari itu senantiasa diridhai oleh Allah SWT. Bukan hanya ketika kami mengucap ijab dan kabul, bukan hanya saat senyum dan haru menyelimuti hari bahagia, tetapi juga dalam hari-hari biasa setelahnya dalam rutinitas, dalam perbedaan, dalam ujian yang mungkin akan datang.
Semoga rumah tangga yang kami bangun kelak menjadi tempat pulang yang penuh ketenangan, tempat bertumbuh yang penuh kesabaran, dan tempat berlabuh yang penuh cinta.
Karena pada akhirnya, kisah yang dimulai dari rasa penasaran di bangku SMP itu, kini bermuara pada satu doa yang sama. Semoga kami tidak hanya dipertemukan, tetapi juga dipersatukan dan dikuatkan hingga akhir waktu.
Terima Kasih
Suatu kebahagiaan & kehormatan bagi kami, apabila Bapak/Ibu/Saudara/i, berkenan hadir dan memberikan do'a restu kepada kami.
Kami Yang Berbahagia








